Powered By Blogger

Saturday, May 25, 2013

Banda Neira, Serpihan Surga di Timur Indonesia

Latar Belakang Gunung Berapi Banda dilihat dari Benteng Belgica, Sabtu (4/5/2013)












KOMPAS.com - Perjalanan ke Banda Neira, Maluku, mengingatkan kembali kenangan 18 tahun yang lampau ketika saya menginjakkan kaki di pulau tersebut. Kalau membuka peta Maluku, letak Banda Neira berada di tenggara Kota Ambon. Pilihan transportasi hanya ada dua melalui laut atau udara. Itupun tidak setiap hari tersedia. Pulau Banda Neira merupakan pulau utama dalam gugusan Kepulauan Banda. Meskipun bukan pulau terbesar, namun pulau yang merupakan ibu kota Kecamatan Banda ini menyimpan berbagai obyek wisata alam, sejarah, dan bahari yang sangat layak untuk dikunjungi.

Memori 18 tahun lalu kembali berputar ketika pesawat Casa 212 Merpati Nusantara Airlines dengan mulus lepas landas dari Bandara Pattimura, Ambon, Sabtu (4/5/2013) pagi menuju Banda Neira. Ini merupakan penerbangan perintis Merpati setelah selama tiga tahun tidak diterbangi. Langit cerah. Capt Bambang Tri Handoko selaku pilot dan Wan Emran sebagai kopilot dengan ramah menyambut kami yang hanya terdiri dari empat penumpang, dua penumpang domestik, dan dua turis asing.

Menurut Capt. Bambang, penerbangan dari Ambon menuju Banda Neira harus dilakukan di pagi hari. "Kalau (terbang) di atas jam 10 sangat riskan. Soalnya cuaca dan angin di Banda Neira sulit diprediksi," katanya.
Benteng Belgica di Banda Neira, Maluku.













Penerbangan selama 50 menit menuju Banda Neira hanya ditemani birunya langit dan birunya Laut Banda. Beruntung cuaca tetap cerah selama perjalanan. Menjelang mendarat, landasan di Banda Neira terlihat jelas. Demikian pula Gunung Api yang ada di depan Pulau Neira juga sama jelas dan berdiri kokoh seperti mengucapkan 'Selamat Datang' di Banda Neira.

Tidak ada yang berubah dengan Bandara Banda Neira. Masih tetap sepi. Maklum saja, Merpati hanya terbang tiga kali seminggu ke Banda Neira. Apalagi setiap pagi dan sore, landasan pacu sering dipakai untuk olah raga warga Banda Neira. Yang mencolok adalah taman-taman di bandara kurang terawat. Beda dengan kondisi 18 tahun yang lalu. Kala itu taman tertata rapi dan enak dipandang. Penumpang yang turun dari pesawat langsung bisa merasakan betapa indahnya bandara ini.

Saya dan Akhmad Zulfikri, Humas Merpati Nusantara Airlines langsung disambut Bahri, pemilik Delfika Guest House. Dengan ramah, Bahri menerima kami di guest house-nya yang cuma 5 menit ditempuh dari bandara. Di kalangan turis asing, nama Delfika yang mulai beroperasi tahun 1981 dan memiliki 7 kamar itu sudah cukup  terkenal. Jangan berharap bisa langsung dapat penginapan di Delfika bila tidak memesannya jauh-jauh hari. Bahri memasang tarif kamar sebesar Rp 200.000 (kamar ber-AC) dan Rp 150.000 (non AC).

Merupakan pemandangan yang biasa, sepanjang jalan di Banda Neira menjadi tempat menjemur pala. Tak disangkal lagi, pala merupakan daya tarik sehingga Portugis, Belanda, Spanyol dan Inggris berlomba-lomba mengarungi lautan beribu-ribu kilometer menuju Banda hanya untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di sini. Pala, saat itu, pala laksana emas karena sangat mahal di pasar Eropa.
Capt. Bambang Tri Handoko (kanan) bersama wisman di Banda Neira, 
















Tiba Banda Neira, kunjungan pertama saya adalah ke Benteng Belgica. Ini merupakan benteng VOC yang dibangun di atas sebuah bukit dan ditempuh hanya 10 menit berjalan kaki dari Delfica Guest House. Benteng ini berada di sebelah barat daya Pulau Neira dan terletak pada ketinggian 30 meter dari permukaan laut. Sungguh mengagumkan melihat pemandangan di sekeliling saat berdiri di benteng yang dibangun pada tahun 1611 di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Pieter Bot ini.

Karena posisinya yang strategis, sehingga dari sini Anda bisa melihat ke segala penjuru pulau. Kala itu keberadaan Benteng Belgica memudahkan VOC mengawasi kapal-kapal yang keluar masuk Banda.

Benteng Belgica dibangun dengan gaya bangunan persegi lima yang berada di atas bukit, namun apabila dilihat dari semua penjuru niscaya hanya akan terlihat 4 buah sisi. Konstruksi benteng terdiri atas dua lapis bangunan dan untuk memasukinya, pengunjung atau wisatawan harus menaiki anak tangga. Di bagian tengah benteng terdapat sebuah ruang terbuka luas untuk para tahanan. Di tengah ruang terbuka, pengunjung bisa melihat dua buah sumur rahasia yang konon menghubungkan benteng dengan pelabuhan dan Benteng Nassau yang berada di tepi pantai.

Menurut sejarah, benteng ini sebenarnya merupakan salah satu benteng peninggalan Portugis yang awalnya berfungsi sebagai pusat pertahanan, namun pada masa penjajahan Belanda, Benteng Belgica beralih fungsi untuk memantau lalu lintas kapal dagang.

rumah-hatta
Rumah pengasingan Bung Hatta. Di sini Bung Hatta mengajar anak-anak Banda Neira. 













Selanjutnya tahun 1622 oleh JP Coen benteng ini diperbesar. Tahun 1667 diperbesar lagi oleh Cornelis Speelman. Berikutnya Gubernur Jenderal Craft van Limburg Stirum memerintahkan agar benteng ini dipugar dan menjadi markas militer Belanda hingga tahun 1860.

Uniknya pada setiap sisi benteng terdapat sebuah menara. Untuk menuju puncak menara tersedia tangga yang mana Anda harus hati-hati menaikinya karena posisi tangga nyaris tegak dan lubang keluar yang sempit.

Setelah bersusah payah menaiki tangga, sampai saya di puncak tangga. Rasa capek seketika terbayar oleh panorama yang indah. Dari sini saya bisa menikmati pulau-pulau di sekitar Pulau Neira seperti Pulau Banda Besar, Gunung Api dan birunya Laut Banda. Belum lagi hilir mudiknya perahu nelayan. Wow... indahnya.

istana-mini
Istana Mini di Banda Neira.














Selesai berkeliling Benteng Belgica, saya dan Fikri ditemani Bahri menuju Istana Mini Neira. VOC kala itu membangun kota Banda Neira dengan mendirikan bangunan istana bernama Istana Mini Neira. Istana tersebut berfungsi sebagai tempat tinggal Gubernur VOC. VOC lebih dahulu membagun istana ini setahun sebelum pembangunan Istana Merdeka di Batavia atau Jakarta.

Istana Mini Neira menjadi satu-satunya banguan besar dan indah saat itu di kawasan ini. Di depannya terhampar pantai biru yang jernih dan Pulau Banda Besar. Di sekitar Istana Mini dibangun rumah-rumah berukuran besar sebagai tempat tinggal dari petinggi orang Eropa yang datang ke Banda. Ibaratnya berjalan kaki di Kota Banda Neira seperti menyusuri jalan-jalan di Eropa karena banyaknya bangunan beraksitektur Eropa. Hanya saja, lagi-lagi soal perawatan gedung masih perlu menjadi catatan khusus bagi pemerintah.

Selesai mengunjungi Istana Mini Neira, saya teringat sebuah tempat yang berisikan berbagai peninggalan penjajah di Banda Neira. Tempatnya di Rumah Budaya Banda Neira dan letaknya persis di depan Delfika Guest House.


rumahbudayabanda
Rumah Budaya Banda Neira.














Di Rumah Budaya ini terdapat berbagai catatat sejarah. Barang-barang peninggalan VOC berupa berbagai jenis meriam, serta beberapa lukisan mengenai situasi pada zaman tersebut.

Yang mencolok adalah di ruang utama museum, tergantung sebuah lukisan raksasa yang menceritakan pembantaian orang-orang terpandang di Banda. Mereka biasa disebut dengan orang kaya, dan pada masa itu mereka ditawan oleh VOC lalu dibawa ke benteng Nassau. Di depan anak istri serta keluarganya, semua orang terkemuka di Banda tersebut dibunuh secara kejam oleh para samurai yang disewa VOC.

kelenteng-banda
Kelenteng di Banda Neira. 













Ke luar dari Rumah Budaya Banda Neira, saat berjalan-jalan di pasar Banda Neira, mata saya tertuju pada sebuah bangunan kelenteng berwarna kuning. Namanya Sun Tien Kong yang artinya Rumah Kuasa Tuhan. Kelenteng yang berusia sekitar 300 tahun ini didirikan oleh tukang bangunan dari China. Dalam catatan Johan Sigmund Wurffbain, pengawas VOC berkebangsaan Jerman yang pernah tinggal di Banda menyebutkan, pada abad 17 ada kelenteng Tionghoa di mana kelenteng tersebut berada di dekat kedai minum anggur. Sayang, kondisi kelenteng itu saat ini dalam kondisi kurang terawat.

Jangan lupa, saat berkunjung ke Banda Neira, mampirlah ke rumah pengasingan Bung Hatta. Saat ini kondisi rumah pengasingan dari sisi perawatan berbeda jauh dibandingkan 18 tahun yang lampau. Saat itu, kondisi bangunan masih terawat baik. Sekarang kamar Bung Hatta, barang-barang peninggalan dan meja-kursi tempat Bung Hatta mengajar terlihat berdebu. Belum lagi foto-foto yang dipasang di dinding sudah mulai kusam.

Secara umum, suasana Kota Banda Neira terbilang sepi. Banda Neira mulai ramai ketika kapal Pelni berlabuh. Mendadak para pedagang memadati pasar siap menyambut para penumpang yang turun ke darat untuk membeli makanan dan oleh-oleh khas Banda. Bagi para pedagang, saat-saat seperti inilah yang ditunggu-tunggu. Dagangan mereka laris manis saat penumpang kapal turun ke darat sebelum melanjutkan lagi pelayaran.
Begitulah kehidupan di Banda Neira. Serpihan surga di timur Indonesia itu kini semakin ramai didatangi turis, terutama dari Eropa, untuk melihat langsung sisa-sisa peninggalan kolonial, keindahan alamnya dan panorama bawah laut yang sanggup "menghipnotis" wisatawan.

Pantai Malole Banda Neira

Bersama Anak anak sekitar Pantai Malole

Langit Banda 6 am

Anak anak Banda Neira

Di ujung Landasan 

Kapal Perintis Baru Bersandar 

Pelabuhan Banda Neira


Thursday, May 23, 2013

Lonthor - Banda Besar Island , Menyisakan Benteng dan Pala


KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA 
Menggunakan perahu menyeberang ke Pulau Banda Besar, Maluku, Minggu (5/5/2013).
Mengunjungi Kota Banda Neira, Maluku, Anda seakan-akan diajak untuk merasakan suasana zaman kolonial dan kekayaan tanah Maluku. Benteng Belgica berdiri kokoh dengan angkuhnya, sekokoh lamanya penjajah bercokol di bumi Maluku yang tujuannya tak lain menguasai pasar rempah-rempah untuk dijual di pasar Eropa.

Setelah puas berkeliling di Banda Neira, banyak pilihan yang bisa dijadikan alternatif bagi wisatawan menghabiskan liburan. Ada Pulau Hatta, Pulau Ai untuk Anda yang suka diving atau menyelam. Atau Anda tertarik mendaki gunung, terdapat Gunung Api tak jauh dari Pulau Neira.

Menunggu penerbangan Merpati Nusantara Airlines rute Banda Neira-Ambon yang terbang tiga kali seminggu, maka waktu yang tersisa di Banda Neira, Minggu (5/5/2013), saya manfaatkan bersama Akhmad Zulfikri, Humas Merpati Nusantara Airlines untuk menyeberang ke Pulau Banda  Besar.

"Di Pulau Banda Besar, ada benteng, sumur suci dan kebun pala. Pantai juga ada," kata Bahri, pemilik Delfika Guest House kepada Kompas.com, di penginapannya, Sabtu (4/5/2013) sore.

Fikri pun langsung tertarik mendengar penuturan Bahri. "Kalau begitu, besok saja kita ke Banda Besar," katanya.



Speed boat merupakan transportasi penting bagi penduduk di Banda Neira, Maluku. (KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA)

Bahri melanjutkan, untuk menuju Desa Lonthor di Pulau Banda Besar sangat mudah, ada perahu yang bisa mengantarkan pengunjung ke pulau tersebut. Dermaganya pun tak jauh dari Delfika Guest House, yakni di belakang pasar Banda Neira.

Lantas, Minggu (5/5/2013) siang, saya dan Fikri berjalan kaki dari penginapan Delfika menuju dermaga perahu yang akan menyeberangkan kami ke Pulau Banda Besar. Tak terlalu sulit mencari dermaga tersebut, hanya berjalan kaki sekitar 500 meter dari penginapan milik Bahri yang letaknya persis di depan Rumah Budaya Banda Neira itu.

Sampai di dermaga, perahu yang datang dan pergi selalu dipenuhi warga kedua pulau. Inilah satu-satunya alat transportasi bagi warga Pulau Banda Besar dan Pulau Neira. Tarif menyeberang dari Pulau Neira ke Pulau Banda Besar hanya Rp 4.000 per orang. Namun siang itu, perahu yang menuju Lonthor sudah jalan, terpaksa menunggu perahu berikutnya.

Ada satu perahu yang kosong. Terlihat pemilik perahu sedang menaikkan dua karung  beras ke dalam perahu. Sekitar 10 orang bisa dimuat di perahu tersebut. Matahari pun makin beranjak tinggi. Panasnya makin menggigit kulit.

"Ke Lonthor pak?" tanya Fikri.
"Ya," jawab si pemilik perahu singkat.
"Jalan sekarang?" kata Fikri lagi.
"Tunggu (penumpang) penuh dulu pak," jawabnya.
"Kalau carter berapa?" tanya Fikri dengan wajah yang mulai berkeringat.
"(Rp) 70.000," jawabnya enteng.
"Bisa turun (tarif) lagi pak?" tanya Fikri.
"Tarifnya memang segitu," jawabnya cuek.
"Oke lah, yuk kita jalan," kata Fikri sambil memasuki perahu.

wisatawan-banda
Mengabadikan obyek menarik di Pulau Banda Besar, Maluku. (KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA)

Pemilik perahu lantas mulai melepaskan tali kapal yang terikat di dermaga. Selanjutnya mesin perahu dihidupkan dan perlahan-lahan perahu melaju menuju Lonthor.

Cuaca siang itu sangat bersahabat, Pulau Banda Besar terlihat jelas di depan mata. Pemilik perahu ini pun mulai terbuka. Namanya Harto dan lahir di Aceh. Dahulu, orangtuanya berdinas di TNI dan selalu berpindah-pindah tugas hingga sampailah Harto di Banda dan mencari nafkah sebagai pemilik perahu di Banda Neira.

Pria murah senyum dengan kulit hitam legam akibat sengatan sinar matahari itu pun mulai bercerita mengenai perkembangan Banda Neira dan suka dukanya menjalani profesi mengantarkan penduduk menyeberang antar-pulau tersebut. "Nyeberang ke Lonthor paling cuma 15 menit. Kecepatan seperti ini (laju perahu tak terlalu cepat). Itu Lonthor," kata Harto sambil menunjuk dermaga yang semakin lama makin jelas terlihat. Sementara di sebelah kanan menjulang Gunung Api.

Tak berapa lama kemudian perahu tiba di dermaga Lonthor. Laut begitu jernih, karang-karang pun terlihat jelas. Ikan-ikan berwarna-warni meliuk-liuk di antara karang yang masih terawat baik.

sumursuci-lonthor
Sumur suci di Lonthor, Pulau Banda Besar. (KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA)


Kami pun menjejakkan kaki di pasir putih Pulau Banda Besar.
"Kalau keliling lebih baik naik ojek," kata Harto mengusulkan cara cepat mengunjungi sumur suci, kebun pala dan Benteng Hollandia.

"Boleh juga pak. Tuh ada tukang ojek," kata Fikri.

Kami melihat dua pemuda dan dua motor parkir di ujung dermaga. Keduanya terlihat sedang berteduh. Harto langsung mendekati kedua pemuda itu dan mengatakan agar membawa kami dengan sepeda motor mengunjungi ketiga tempat tersebut. Setelah tawar menawar, akhirnya disepakati sewa ojek Rp 25.000 per orang.

"Bapak keliling. Saya tunggu di sini (dermaga)," kata Harto sambil tersenyum.

Melajulah saya dan Fikri menggunakan ojek menuju sumur suci atau sumur tua yang ada di Desa Lonthor. Letak sumur tersebut di ketinggian sekitar 100 meter di atas permukaan laut dan memiliki kedalaman 4 meter. Ada dua sumur dan letaknya berdampingan. Dasar sumur berhubungan satu sama lain. Satu sumur dikeramatkan dan satu sumur lagi seperti biasa digunakan warga setempat sehari-hari untuk sumber air minum. Meskipun musim kemarau, sumur tersebut tak pernah kering. Mereka yang meminum air dari sumur itu diyakini akan berumur panjang dan terhindar dari segala jenis penyakit.

Fikri kemudian menimba air tersebut dan meminumnya setelah itu mencuci wajahnya, "Ternyata airnya segar saat diminum," kata Fikri.

benteng-hollandia
Sisa-sisa reruntuhan Benteng Hollandia di Pulau Banda Besar, Maluku. (KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA)


Di sumur inilah dilakukan upacara adat yakni cuci parigi yang digelar setiap lima tahun sekali. Tujuan utamanya adalah membersihkan dua sumur tersebut. Bagi penduduk asli di Kepulauan Banda, cuci parigi merupakan tradisi penting. Wajar banyak dari mereka rela memilih pulang kampung untuk menghadiri acara tersebut. Biasanya acara cuci parigi berlangsung antara bulan Agustus sampai November. Cuci parigi ini merupakan acara adat yang selalu dipenuhi mereka yang mengaku penduduk Banda. Acara ritualnya ini selalu dinanti-nantikan oleh wisatawan dalam maupun luar negeri.

Usai mendatangi sumur suci, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Benteng Hollandia. Di pikiran saya terbayang benteng yang akan kami kunjungi ini masih berdiri tegak dan berada di atas bukit, ditambah pemandangan ke arah Gunung Api dan Pulau Neira.

Namun, kenyataannya ketika kami sampai di sana, tidak ada benteng utuh yang berdiri. Yang ada hanyalah sisa-sisa reruntuhan benteng yang hampir rata dengan tanah. Yang tersisa hanyalah pintu benteng yang menghadap Gunung Api dan nama Hollandia.

Memang, dari depan Benteng Hollandia ini pemandangan Gunung Api sungguh indah. Dari penelusuran buku sejarah diketahui, tatkala Peter Vleck mengubah bekas benteng peninggalan Portugis itu pada tahun 1624 dan menamakannya Hollandia, pikirannya cuma satu yakni membangun benteng yang megah. Dari benteng ini pula, Belanda bisa melihat kapal-kapal lawan yang hilir mudik. Saat itu, dari benteng ini penguasa bisa mengawasi kerja para budak-budak mereka di kebun pala. Pala merupakan produk yang bernilai jual tinggi kala itu di pasar Eropa.

kenari-lonthor
Pohon kenari dan pohon pala di Pulau Banda Besar, Maluku. (KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA)


Belanda belum menyadari, ketika Gunung Api memuntahkan kemarahannya pada tahun 1743, maka seketika meluluhlantakkan Benteng Hollandia sehingga nyaris rata dengan tanah. Francois van Boeckholtz, penguasa Belanda berikutnya datang ke Lonthor. Dia memperbaiki Benteng Hollandia pada 1796. Namun perbaikan yang dilakukan selama bertahun-tahun tak banyak bermanfaat. Secara perlahan-lahan bangunan seluas 1.500 meter persegi itu pun mulai meredup dan hanya menyisakan puing kebesaran. Ketika kami datang, bangunan liar tumbuh lebat di luar dan di dalam benteng. Pohon pala tumbuh subur di depan benteng. Sisa-sisa kejayaan masa lalu itu kini hanya tinggal puing dan kenangan.

Perjalanan kami lanjutkan menuju perkebunan pala dan kenari di Pulau Banda Besar. Di pulau ini, pohon pala dan kenari tumbuh subur. Bahkan ada pohon kenari yang sudah berusia ratusan tahun. Kenari oleh penduduk setempat diproses menjadi makanan atau kue khas Banda dan Maluku umumnya yang dicari wisatawan sebagai oleh-oleh.

Sedangkan pala dari Banda ini pada zaman kolonial diangkut ke Eropa untuk dijual dengan harga tinggi. Gara-gara pala, Belanda dengan VOC-nya meraup untung besar pada masa itu. Sementara penduduk Banda tetap miskin dan tak bisa memperoleh apa-apa dari "harta" yang mereka miliki. Semua hasil pala Banda dibawa Belanda ke Eropa.

Matahari pun makin condong ke barat. Tiga tempat sudah kami kunjungi di Desa Lonthor. Akhirnya kami memutuskan kembali ke dermaga. Dari kejauhan, terlihat Harto dengan setia menunggu. Tak sampai 1,5 jam kami mengunjungi ketiga tempat tersebut dengan ojek. Setelah kami memasuki perahu, Harto langsung melepaskan tali kapal dan menghidupkan mesin perahu dan mengarahkan perahu ke Banda Neira.

desa-lonthor
Desa Lonthor di Pulau Banda Besar dengan panorama Gunung Api. (KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA)


"Pak, sebelum balik ke Banda Neira, kita putari Gunung Api, bisa?" tanya Fikri.
"Bisa," kata Harto bersemangat.
"Berapa lama mengelilingi Gunung Api," tanya Fikri lagi.
"Sekitar setengah jam," jawab Harto.
"Ayo pak, kita kelilingi Gunung Api. Nanti (bayaran) saya tambah," kata Fikri.

Harto pun tersenyum. Selanjutnya perahu pun dengan kecepatan sedang melaju mengelilingi Gunung Api sebelum akhirnya mengantarkan kami merapat di dermaga Banda Neira. Kami mengucapkan terima kasih kepada Harto dan dia pun mengucapkan hal yang sama dan selamat jalan. Matahari pun mulai condong ke ufuk barat...

 Blog Owner di Banda Besar   
 Salah Satu Tempat Sandaran Kapal di Banda Besar

Gunung Berapi Banda




Menarik Perahu  


Monday, March 11, 2013

G7GI visit EP Tyre Factory



Mengawali kegiatan di awal tahun 2013 ini, para pengguna Mitsubishi Galant yang tergabung kedalam Komunitas Galant Seventh Generation Indonesia, menggelar acara Kopi Darat (Kopdar) dan Factory Visit ke PT EP Tyre Industry yang bertempat di Citeureup-Bogor, Sabtu (02/03).  Sekitar 21 Kendaraan Mitsubishi Galant tahun 1993-1997 dari Jabodetabek dan Bandung berkumpul di Rest Area Cibubur Km 10.
                              

Kegiatan ini dihadiri lebih dari 30 anggota keluarga Komunitas Galant Seventh Generation Indonesia (G7GI)."Tidak hanya kopdar yang dilakukan, melainkan tukar informasi bersama antara kedua organisasi yang saling mendukung satu sama lain. Gagasan ini muncul dari anggota dan merupakan agenda komunitas," ujar Denny Ketua Region Jabodetabek.Walaupun di awal perjalanan ada permasalan dari rekan G7GI perwakilan Bandung, karena masalah pendinginan mesin, namun hal tersebut akhirnya dapat teratasi. Sekitar pukul 08:30 WIB seluruh anggota bergerak melewati Tol Jagorawi menuju kawasan Sentul, Bogor."Konvoi berjalan tertib dengan menyalakan lampu dekat/low pada kecepatan konstan dan posisi lambat sebagai identitas konvoi, guna menunjang keselamatan bersama serta pemakai fasiltas jalan tol lainnya." ungkap Agus Hendro, pembina komunitas G7GI.

  

Setibanya di EP Tyre, G7GI disambut oleh Surya, Sales & Marketing Manager PT Elang Perdana Tyre Industry. Acara diawali dengan sesi sambutan oleh kedua pihak. Selanjutnya, survey pada area produksi dengan bimbingan kepala produksi yang dibagi beberapa kelompok.Arahan serta petunjuk diberikan secara terbuka sehingga bisa membuka pikiran dan menambah wawasan mengenai produksi ban dari awal hingga proses jadi. Acara diakhiri dengan sambutan terakhir dan bertukar bingkisan diwakili oleh Agus Hendro selaku Pembina Komunitas G7GI, sesi photo pun berlangsung diakhir acara."






Event selanjutnya adalah Temu Akbar Pengguna Mitsubishi Galant Lele/Paus 1993-1997 di Jawa Tengah, semoga dapat terwujud," ungkap Acha selaku perwakilan anggota pada forum terbuka FB dan grup.Bagi rekan-rekan yang ingin bergabung dapat mengunjungi Facebook Group Galant Seventh Generation Indonesia, Twitter @ G7GI dan email galant7indonesia@yahoo.co.id




Monday, March 4, 2013

Story from Merauke , East Corner of Indonesia


Bandara Mopah 

Kabupaten Merauke adalah salah satu kabupaten di Provinsi PapuaIndonesiaIbu kota kabupaten ini terletak di Merauke. Kabupaten ini adalah kabupaten terluas sekaligus paling timur di Indonesia. Di kabupaten ini terdapat suku Marind Anim.
[sunting]Untuk menuju ke Kota Merauke (Kota Rusa) bisa ditempuh dengan menggunakan kapal laut dan transportasi udara yang hanya dilayani oleh maskapai penerbangan swasta, yaitu Merpati Nusantara Airlines dan  Lion Air
Kota Merauke terkenal dengan sebutan Kota Rusa dikarenakan dahulu hewan jenis ini banyak sekali ditemukan di kota ini selain binatang-binatang asli Papua lainnya, seperti kangguru merah, burung pelikan dan sebagainya.
Dilihat dari kondisi geografi, sejarah, ekonomi dan budaya, Kota Merauke memiliki beberapa keistimewaan dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Pulau Papua. Secara geografi, kota Merauke adalah salah satu kota paling timur di Indonesia, sekaligus berbatasan dengan Negara (Papua New Guinea).
Di kota Merauke terdapat sebuah tugu yang merupakan kembaran dari tugu yang terdapat di Sabang, yaitu Tugu Sabang-Merauke. Tugu ini dibangun sebagai simbol Kesatuan Negara Republik Indonesia dari Sabang (Nanggroe Aceh Darussalam) sampai Merauke (Papua).Tugu Sabang-Merauke ini bisa kita jumpai di Distrik Sota, yaitu sebuah daerah yang terletak di sebelah timur kota Merauke. Untuk menuju ke Sota kita bisa menggunakan kendaraan roda empat.
Dari latar belakang sejarah, kota Merauke memiliki keunikan tersendiri. Nama kota ini diambil dari nama sebuah sungai yang melintasi daerah Papua Bagian Selatan, yaitu sungai Maro. Nama kota Merauke terjadi karena kesalahpahaman bahasa antara pendatang (orang-orang Belanda) dan suku Marind (penduduk asli Kabupaten Merauke). Orang-orang Belanda yang melintasi sungai Maro menggunakan kapal uap, menarik perhatian suku Marind. Disinilah terjadi komunikasi antara orang Belanda yang mengira orang Marind bisa menggunakan bahasa Melayu.
Perekonomian di kota Merauke termasuk berkembang. Kapal-kapal yang memuat kebutuhan pokok penduduk Kabupaten Merauke berdatangan dari Pulau Jawa, namun untuk kembali ke Pulau jawa kapal-kapal ini tidak memuat barang muatan. Terjadi juga transaksi dagang antara penduduk Merauke dengan penduduk Negara tetangga PNG yang datang ke daerah kabupaten Merauke (Pelintas Batas) khusus untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Masalah Flu Burung yang sering terdengar di media masa Indonesia seperti tidak terlihat di Pulau Papua khususnya di kota terujung sebelah timur Indonesia ini. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh kurangnya akses transportasi ke daerah terujung timur Indonesia ini.

Source : Wikipedia 




                              Suasana Ruang Tunggu Keberangkatan Bandara Mopah , Merauke

Tempat Makan Jagung sekaligus Ikan Bakar di luar Kota Merauke 
dengan Perjalanan 15 Menit by car > ngebut tapi 

Pusat Kota Merauke tempat pertunjukan Seni Budaya , Olahraga , Kepemerintahan dsb 
terletak di Pusat Kota di depan Kodim 

Bersama putra putri Merauke yang menjaga Portal Perbatasan Indonesia - Papua New Guinea 

                                           Perbatasan antara Indonesia dan Papua New Guinea
                             Untuk diketahui di daerah sini Listrik hanya hidup dari jam 6 Malam sampai dengan jam                      12 Malam sisanya yah gelap gulita . Bersyukurlah yang tinggal di perkotaan masuh menikmati listrik 24 jam
                                                   

Sarang Burung yang ada di wilayah Perbatasan Tingginya melebihi Tinggi Orang Dewasa 
Foto Terlampir sudah ga ada semutnya yah hehehhehe

  Kendaraan yang membawa kami keliling , Thanks Om Rony . Next time ke Jakarta aku bawain Pisang deh soalnya beliau favoritnya buah pisang untuk pengganti makan dsb


                          Arafura News dan Papua Selatan Pos adalah koran yang umum di Merauke , sedangkan yang jangkauannya Nasional adalah Kompas


kurang lebih alam di Merauke seperti inilah 

                                             Perjalanan menuju Perbatasan di kanan kiri adalah Hutan Taman Nasional , kalau dulu masih ada Rusa dan hewan yang suka melintas kalau sekarang kadang kadang aja katanya , Bisa dipastikan nyasar kalau di tinggal disini  karena pohonnya hampir sama semua dan tidak ada Taxi , Hanya mobil Pemda yang datangnya tidak kunjung pasti jamnya .

Bagi Masyarakat Merauke Pawai , Budaya adalah kebiasaaan dan harus di pertahankan , ada beberapa Seni Tari mereka yang sudah pentas sampai keluar negeriii 


ini Foto saya di Tugu Kembaran kalau Lurus ke Papua New Guinea kalau belok kiri keTanah Merah 


Oleh Oleh yang bisa di bawa Pulang dari Merauke antara lain sbb :
1.Kerajinan Kulit Buaya , Kulit Rusa seperti dompet , gantungan konci dsb
2.Udang Ebi
3.Dendeng Rusa
4.Udang Besar
5.Kerajinan Suku asli Merauke

Bagi yang beragama islam kalau mau makan hati hati sehubungan mayoritas umat kristiani disana , amannya cari Rumah Makan Padang atauuuu makan mie ajalaaaah , Tapi makanan Hotel mah aman .

Hotel yang terbesar di Merauke adalah Swiss Bell Hotel yakni hotel yang belum lama berdiri dan menjadi langganan para pilot dan pramugari Airlines yang stay  Di Merauke

Semboyan mereka adalah Izakod Bekai Izakod Kai : Satukan Hati Satukan Tujuan